Kereta dan Suara


    Iyol yang sedang mati ide tiba-tiba dikagetkan oleh suara orang yang terdengar seperti akan melakukan tindak teror. "Demi Gideon dan semua balatentara Sion, kami bersumpah akan membunuh semua orang kafir dan..." Iyol cepat-cepat menghentikan ocehan nada dering ponselnya itu. Itu SMS dari Inka, adiknya. Dengan satu sentuhan ibu jari Iyol menekan pilihan "Tidak" dalam pilihan "Buka Pesan Sekarang". Iyol kembali rebah di kasurnya, menonton cicak  pagut-pagutan di sudut langit-langit kamar.   
    Sepi kembali mengisi kamar. Dengung statis pengeras suara komputer membuat sepi makin menggigit. Komputer Iyol masih dibiarkan menyala dengan delapan aplikasi masih terbuka. Kebanyakan aplikasi pengolah suara dan bebunyian. Di samping CPU, bekas bungkus coklat berwarna alumunium berserakan.   
Kini Iyol bosan dengan sepi. Ia bangkit dari kasur, beranjak ke komputernya. Semua file musik yang jumlahnya ada 14.328 file ia masukkan ke pemutar musik, menekan kenop "Mainkan Acak" lanjut menekan tombol "Putar" sepuluh kali. Yang terpilih lagu Destiny dari Homogenic. Lagu acak yang terpilih itulah yang ia putar sampai selesai. Yang lainnya ia hapus seperti diktator menghapus nama tahanan politiknya untuk dieksekusi.    
    Iyol punya obsesi lebih dengan segala macam suara. Kalau ada tipe orang yang hobi membawa kamera kemana-mana menangkap momen yang terjadi sepanjang hari, Iyol mirip seperti itu. Pembedanya, tentu saja Iyol lebih memilih menenteng perekam suara ketimbang kamera video. Ia merekam semuanya. Mulai dari ringkik kuda sampai suara air kencing yang terpercik di kloset. Ada satu kejadian konyol ketika Iyol digelandang ke pos satpam di suatu pusat perbelanjaan karena tindakannya merekam suara-suara yang ada di toilet. Ia dianggap mengganggu oleh beberapa orang pengguna toilet pusat perbelanjaan itu.    
    Lagu Destiny dari Homogenic sayup-sayup mengalun ketika ia membuka SMS yang belum sempat ia baca tadi.
    "Bang, aku minta tolong beliin tiket kereta api eksekutif ke Purwokerto yahh"
    Iyol sedikit heran. Untuk siapa adiknya minta belikan tiket ke Purwokerto. Iyol membalas, "Ini buat kamu atau buat siapa? Mau berangkat kapan jam berapa?"
    Selagi menunggu balasan, Iyol kembali menekuri komputernya. Terobesesi dengan suara membawanya berkenalan dengan seniman-seniman instalasi. Dari obrolan dan perkenalan ini itu tidak disangka, Iyol diajak ikut serta pameran seni instalasi di satu galeri seni ternama. Ini proyek serius pertama Iyol yang tidak ingin disia-siakannya. Lagi-lagi bunyi suara teroris akan membunuh orang kafir. Iyol cepat-cepat melihat ponselnya.
    “Buat temen aku Bang. Ia ada urusan mendadak besok sore jadi mesti pulang paginy. Abang talangin dulu ya, ntar kalau ketemu orangnya dia lsg ganti. Tolong yahh.. Abang baik deh.... :D”
    “Oke” balas Iyol singkat.
***
   
    Prisma sedang menggonta-ganti saluran TV berkali-kali, mencoba mencari siaran yang bergizi ketika handphone Inka yang tergeletak di atas meja rias berbunyi. “Ka, handphone bunyi tuhhh” teriak Prisma.
    “Angkat aja Pris. Itu balesan dari abang gue mungkinnn” sahut Inka tak kalah keras.
    Prisma meletakkan remote TV. Saluran berhenti di acara musik sore. Lima laki-laki dengan gaya rambut belah tengah sedang menari-nari di atas panggung. Prisma turun dari tempat tidur, meraih handphone model kerang punya Inka. Membaca pesan yang masuk.
    “Okeee katanya Kaaa. “
    Tidak lama Inka datang masuk ke kamar. Ia membawa nampan berisi dua gelas air dingin dan piring berisi apel. Penampilan Inka cerah dengan T-shirt longgar dan celana pendek sedikit di atas lutut.
    “Ih sehat banget sih lo Ka, sore-sore begini makan buah” canda Prisma.
    “Bukan gara-gara sok hidup sehat. Di kulkas cuma adanya ini soalnya,” balas Inka sambil meletakkan nampan di atas lantai dan mencomot seiris apel. “Gue bilang juga apa kan. Abang gue pasti mau kok dimintain tolong. Walaupun ekstentrik tapi dia dasarnya baik.”
     “Lagian kosannya kan dekat stasiun kereta. Itu ibarat ke warung aja beli gula merah.” tambah Inka sambil tertawa-tawa mesem. Termakannya apel yang masih terlalu muda.
    Prisma sudah menemukan saluran TV yang lumayan bergizi. Dokumenter tentang perjalanan naik balon udara. Tangannya kini juga ikut mencomoti irisan-irisan apel di piring yang dibawa Inka. “Iya, iya. Makasih banyak ya Ka. Tapi gue heran loh. Abang lo kok pake segala ngekos sih Ka. Padahal kalian masih sama-sama tinggal di ibukota ” kata Prisma.
    “Enggak tau tuh. Permintaannya sendiri. Rumah ini kan di daerah pinggir kota. Katanya sih terlalu tenang. Dia kan terobsesi banget sama suara, jadi dia mau tinggal di tempat yang ada macam-macam suara. Dipilihlah di pusat kota yang hiruk pikuk” jelas Inka.
    “Terobsesi sama suara gimana maksud lo Ka? Abang lo musisi?” tanya Prisma.
    “Dia masuk kategori musisi bukan ya?? Gue juga bingung definisiinnya. Dia hobi banget ngerekam suara. Suara apapun direkam. Hasil rekaman suara-suaranya digabung jadi musik yang kedengarannya abstrak gitu. Gue pernah denger salah satu kerjaannya dia. Itu semua dicampur aduk. Ada suara gamelannya lah, ada bunyi notifikasi Blackberry, ada suara bel sekolahan. Itu kayak gado-gado bener. Tapi yang bikin gue ngakak pas denger bagian vokalnya.”
“Suara siapa Ka?” Prisma penasaran.
    “Gak jelas suara siapa. Cempreng-cempreng gitu. Pas abang gue bilang itu suara bencong yang ngamen di lampu merah, gue ngakak sejadi-jadinya.”
    “Eh gak takut sama bencongnya tuh?”
    “Kelihatannya sih enggak atau memang abang gue itu hebat sembunyi-sembunyi ngerekamnya. Gak kebayang bakal dijadiin apa tuh sama si bencong kalo ketahuan...” Inka tergelak-gelak. Prisma ikut tertawa. Tiba-tiba handphone Inka berbunyi lagi. Dengan sigap Inka membuka pesan yang masuk. "Udah dibeli nih, Pris. Besok jam 07.38 tapi naiknya dari Stasiun Jatinegara."
    "Cepet banget dibelinya," Prisma takjub.
    "Kan gue bilang juga apa. Udah kayak beli gula merah kan?" Inka tertawa geli.
    Paginya jam 05.35, Prisma keluar dari kasur pelan-pelan. Ia tidak mau membangunkan Inka. Teman karibnya itu masih terlihat pulas tertidur. Tadi malam sepertinya Inka begadang mengerjakan tugas kulian dan baru bisa tertidur subuh. Prisma mandi dan mengganti baju. Ia memakai T-shirt Pucca warna putih, cardigan warna biru telur asin dan jeans hitam. Ranselnya sudah menggumpal. Tinggal memasukkan peralatan mandi yang tadi dipakainya lalu selesai sudah. Ia siap berangkat.
    Pelan-pelan Prisma menggoyang bahu Inka. "Ka...Inka...aku pamit ya," Prisma berpamitan setengah suara. Yang dibangunkan menggeliat malas. "Pris, lihat nomor abang gue dulu deh biar bisa janjian.." Inka mengingatkan sambil menguap lepas. "Nama kontaknya Bruder Iyol."
    Prisma mengambil handphone Inka yang tergeletak sembarangan di lantai. Ia membuka layar depan lalu menekan tulisan Kontak lalu Cari lalu Bruder Iyol. Dapat. Prisma menghampiri Inka lagi. "Sip, udah dapat. Makasih banyak ya, Ka. Gue pamit sekarang nih." Inka mengangguk setengah sadar. Prisma membuka pintu kamar dan menutupnya kembali pelan-pelan.        
***   

    Kereta kita segera tiba / Di Jatinegara kita kan berpisah / Juwita malam/ siapa gerangan pu... lalu muncul nada sela menandakan ada telepon masuk. Iyol menghentikan lagunya untuk menjawab telepon. Nomor baru yang tidak Iyol kenal. "Iya halo. Iya ini Iyol. Ya saya sudah di Jatinegara. Kamu dimana? Masih lama? Oke gak papa, saya tunggu kok. Saya nunggu di depan pintu utama pakai T-shirt tulisan Pitchfork ya." Telepon ia matikan lagi.
    Suasana stasiun tidak terlalu ramai. Tapi karena ukuran stasiun dan peron-peronnya sempit, terasa agak sedikit pengap. Matahari masih menyembul malu-malu. Sinarnya yang terhalang tiang-tiang peron membentuk bayangan yang hanya sepanjang langkah kaki orang dewasa. Di sebelah kanan Iyol, di sudut dekat WC pria, seorang bapak tua berkemeja kotak-kotak kelabu duduk melipat tubuh. Posisinya tubuhnya agak tersembunyi di antara dinding stasiun dan kardus-kardus bawaannya. Matanya terpejam. Iyol melihat takut-takut mengira bapak itu kolaps. Rupanya cuma tidur.
    Di hadapan Iyol tiba-tiba berdiri perempuan mungil berambut super pendek dengan ransel gendut. Ia tersengal-sengal. Iyol melihat jam dinding besar stasiun. Sudah pukul 07.29.
    "Kamu Prisma?" tanya Iyol.
    "Iy..iya..Bang..Bang Iyol yahh...?" Prisma balik bertanya masih tersengal-sengal.
    "Ayo kita langsung cari bangku kamu" kata Iyol. Prisma yang sudah sedikit reda ngos-ngosannya agak heran.
    "Eh, gak apa-apa Bang. Biar saya cari sendiri saja." Prisma segan.
    "Enggak sopanlah. Inka kan sudah minta tolong ke saya. Pelayanannya mesti perfek" Iyol nyengir kuda. 
    Mereka lalu masuk ke kereta yang sedang parkir di nomor jalur seperti yang terpampang di tiket. Prisma tidak enak hati merepotkan sampai segininya. Soalnya ia sendiri sudah lumayan sering bolak-balik Jakarta-Purwokerto. Agak spesial saja kalau ada pelayanan seperti ini.
    "Ketemu, ini nomor 11B," seru Iyol. "Nah sini duduk. Sini ranselnya saya taruh di kabin atas."
    “Nanti dulu, Bang. Dompet saya masih di dalam tas.” Prisma duduk di tempatnya mengumpulkan napas lalu mengambil dompetnya dari dalam saku kantong ransel. “Tadi harga tiketnya berapa Bang?"
    Handphone Iyol berbunyi lagi. Prisma makin geleng-geleng melihat abang teman karibnya ini. Inka benar. Abangnya itu benar-benar ajaib. Sampai nada dering handphonenya saja suara teroris.
    "Pris, sebentar ya. Nanti saya kesini lagi. Saya jawab telepon dulu” pinta Iyol.
    Prisma melihat Iyol berjalan ke arah sambungan gerbong di belakangnya. Di luar petugas stasiun mulai sibuk meniupkan peluitnya. Orang-orang makin banyak lalu lalang melintasi koridor gerbong. Hingga peluit panjang terakhir tanda kereta akan berangkat, Iyol tak kunjung datang. Kereta kemudian bergerak. Pelan-pelan bertolak dari stasiun. Prisma gusar. Di tangannya masih tergenggam lembaran uang pengganti tiket kereta yang belum sempat ia berikan. Ia gelisah melirik ke luar jendela. Melihat barisan orang di stasiun yang makin lama makin jauh. Lari ke luar tentu saja tidak mungkin. Baiklah nanti ia transferkan saja ke rekening Inka. Hingga kemudian bahunya ditepuk orang.
    "Sori nunggu lama, Pris. Tadi mau ngomong apa?"
    Prisma terkejut campur panik. Iyol masih ada di dalam gerbong kereta yang sudah bergerak.
    "Bang, keretanya sudah jalan.." Prisma cuma bisa melongo. 
    "Lho, saya beli tiket juga kok. Saya duduk di 11C. Eh, itu disini kan ya, di samping kamu" Iyol tampak tenang. "Terus soal uang tiket kamu itu, gak usah diganti pake uang deh."
    "Terus gantinya gimana, Bang" Prisma tambah melongo.
    "Hmm, bayar pakai inspirasi aja ya. Kamu jadi inspirasi saya."
    “Maksudnya?” Prisma masih tidak mengerti.
    “Jadi begini, saya mau ada pameran instalasi suara. Tenggatnya sudah dekat. Semua suara yang saya perlu sudah saya masukin. Tapi seperti masih ada yang kurang. Taulah ya kalo bikin karya seni. Pasti ego-egoan. Oh, iya, Inka sudah cerita tentang kerjaan saya belum? Jadi saya perlu ngerekam blablablablabla...." penjelasan Iyol makin samar, tenggelam bersama suara derap kereta api, suara percakapan orang lain di kursi sebelahnya dan kursi sebelahnya lagi dan kursi sebelahnya lagi dan suara peluit kereta sesekali.
    Tiga hari kemudian nada dering SMS Iyol berganti. Kini adalah suara gelak tawa mesra seorang perempuan dengan latar belakang derap kereta api.

Setelah Tengah Malam

--Renungan Jam Satu 
  Lewat Tiga Puluh Delapan--

bibirku kelu
mungkin pagi nanti tiga ratus
orang berjubah putih hadir

lidahku butuh injeksi larutan
pelemas urat dan dua sendok
makan vitamin se
diminum siang dan petang

karena mulutku pahit darinya
kabel hitam terjuntai rapi mengulur
nyawaku yang hilir mudik
menunggu ke tepi mari seberangi
gigir kota terlalu ngeri

lintasan kota penuh besitua menari
berjingkat menolak untuk dewasa
dan bila baris telah habis maka
hentikan waktu biar detik mengetuk
suatu saat
dari tatap pekat perempuan bersweater coklat

pagi nanti
tiga ratus orang berjubah putih hadir
akan kuubah menjadi siang


--Kalimat-kalimat Jam Dua Tepat--
Sisanya hanya hela
lelah tempias arus dari hutan
paling hitam aku
ingin pening dalam sesatmu
meminjam tabah kepunyaan dinding
hawa gelap yang setia
di balik gorden menunggu
sampai anjing menyalak tiga kali
sampai reguk perlahan kau yang masih
terjaga malam ini

An Awkward Confession

Ceritanya teman minta tolong dibuatkan sampul CD buat mixtape spesial deklarasi kasih sayang. Berbekal sogokan kacang, kola, dan martabak, akhirnya kover pun jadilah.

tampak depan

tampak belakang
Waktu membuat ini, saya terpengaruh gambar sampul buku A General Theory of Love yang super kece itu. Bedanya kalau di gambar sampul buku itu, yang berdekatan itu kursi, di sini yang berdekatan pakaian yang dijemur. Kenapa milih pakaian yang dijemur? Mungkin karena saya terlalu sumpek ngeliat onggokan baju kotor yang numpuk di kamar, tapi super duper malas untuk nyucinya. Alam bawah-sadar mengingatkan tampaknya... -___-